JAKARTA, KOMPAS.com — Belajar dari kasus amblesnya Jalan TB Simatupang, Pemprov DKI Jakarta akan mengevaluasi jaringan infrastruktur jalan raya. Sarana kelengkapan jalan yang tidak memadai sangat merugikan publik sebagai penggunanya, salah satunya karena kacaunya keberadaan beragam utilitas di sekitar jaringan jalan.
Kabel telekomunikasi, air, listrik, dan fiber optik sering menjadi pemicu kerusakan jalan lebih cepat. Kepala Dinas Pekerjaan umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan mengatakan, kerusakan Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, disebabkan sarana pendukung jalan kurang memadai.
”Kondisi gorong-gorong memang tidak layak untuk jalan sekelas Simatupang. Sementara gorong-gorong yang sudah sempit itu dipakai untuk jaringan utilitas. Akibatnya, kapasitas gorong-gorong menjadi berkurang. Sampah tersangkut sehingga aliran air terhambat kemudian gorong-gorong jebol saat banjir,” kata Rudy, Jumat (17/1/2014), di Jakarta.
Tahun ini, kata Rudy, Pemprov DKI Jakarta mulai mengembangkan jaringan utilitas khusus. Tahap awal pembangunan dilakukan di kawasan Kuningan. ”Dengan cara ini, kami harapkan bisa mendukung kualitas jalan yang ada. Jangan sampai peristiwa di TB Simatupang terulang,” kata Rudy.
Masih banyak ruas jalan yang belum memiliki sarana kelengkapan jalan memadai. Selain jaringan utilitas, ruas jalan juga perlu didukung drainase di kedua sisi jalan. ”Seharusnya pemasangan jaringan utilitas di dalam tanah minimal 1,3 meter. Kenyataannya, hampir semua kurang dari angka itu. Kami minta semua lurah dan camat melaporkan kepada pihak berwajib jika mengetahui pelanggaran pemasangan jaringan utilitas,” kata Rudy.
Macet parah
Hingga Jumat, kemacetan parah masih terjadi di Jalan TB Simatupang, tepatnya di sekitar Graha Simatupang dan Gedung Oleos. Di lokasi tersebut, Senin (13/1), sebagian ruas jalannya ambles karena gorong-gorong tak mampu menahan derasnya aliran Kali Sarua menuju Kali Mampang.
Potongan ruas jalan yang ambles disingkirkan dengan alat berat dari Kementerian Pekerjaan Umum. Akibatnya, lokasi itu kini benar-benar berubah menjadi aliran sungai. Jalan ditutup total, tak satu pun kendaraan bermotor bisa lewat. Pejalan kaki pun kesusahan melewatinya.
”Agak takut juga waktu menyeberang, tetapi mau lewat mana lagi. Memang jadi susah saya karena jalan ambels ini,” kata Yani (27). Yani naik angkutan umum dari rumahnya di dekat Lebak Bulus menuju kantornya dekat Graha Simatupang. Ia terpaksa berhenti beberapa puluh meter dari jalan ambles karena sopir angkot harus berputar melalui jalur alternatif. Begitu turun dari angkot, ia berjalan kaki dan meniti tepian jalan melintasi ruas yang kini jadi sungai kecil.
Elyas, sopir bus umum jurusan Lebak Bulus-Pasar Minggu-Blok M, mengaku amat terganggu gara-gara jalan ambles ini. ”Setiap hari, Jalan TB Simatupang ini selalu macet. Ditambah lagi ada jalan ambles ini. Parah banget, bisa dua jam hanya dari Lebak Bulus ke sini saja,” katanya.
Kepala Kepolisian Sektor Metro Pasar Minggu Komisaris Adri Desa Furyanto dalam beberapa hari terakhir turut siaga menjaga keamanan di kawasan jalan ambles. ”Personel kami diturunkan di lapangan untuk ikut mengatur lalu lintas. Ini dilakukan seterusnya sampai jalan tersebut bisa aman dilalui kembali,” katanya.    
Untuk memperlancar arus lalu lintas di Jalan TB Simatupang, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta bersama Polda Metro Jaya dan Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pengaturan lalu lintas di kawasan itu. Pengaturan lalu lintas tersebut dilakukan dengan memberlakukan sistem satu arah di Jalan Jati Padang, mulai dari Jalan TB Simatupang sampai Jalan Ragunan.
Kendaraan dari arah barat ke arah timur (Kampung Rambutan) disarankan melalui Jalan TB Simatupang di sodetan jalan tol dan kembali ke jalan arteri Simatupang. Sementara lalu lintas dari arah Pasar Minggu ke Kampung Rambutan disarankan melalui Jalan Ragunan-Jalan Pasar Minggu-Jalan Tanjung Barat dan seterusnya.
Jalan vital
Jalan TB Simatupang merupakan salah satu jalan penghubung utama antara Jakarta dan kawasan sekitarnya, seperti Depok, Bogor, dan Tangerang. Selain jalan reguler, di lokasi yang sama juga ada jalan tol.
Saat ini, karena aksesnya yang begitu mudah, lahan di kanan-kiri TB Simatupang semakin dilirik pengembang untuk membangun perkantoran, pusat belanja, dan perumahan vertikal/apartemen. Bagi Kota Jakarta Selatan, wilayah TB Simatupang termasuk dalam kawasan pengembangan bisnis baru yang akan terus tumbuh hingga 20 tahun ke depan.
Terbukti kini di sepanjang TB Simatupang dari perempatan Lebak Bulus-Pondok Indah hingga perbatasan dengan Jakarta Timur, banyak proyek pembangunan gedung tinggi. Seiring tumbuhnya gedung bertingkat di kawasan ini, pembangunan infrastruktur, seperti jaringan air bersih, listrik, telepon, kabel optik, dan saluran air, juga gencar dilakukan. Selama satu tahun terakhir, jalur reguler TB Simatupang tidak pernah sepi dari kegiatan galian untuk bermacam keperluan pembangunan infrastruktur tersebut.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, meningkatnya kebutuhan infrastruktur sebenarnya bisa diperhitungkan sejak dini, termasuk penyediaan jalan. (NEL/NDY)